Hati – Hati Melewati Jembatan Layang Kemayoran

Jembatan layang Haji Bagindo Rajo (HBR) Motiek, Kemayoran, Jakarta Pusat, mengalami pergeseran. Jalan tersebut merupakan akses penghubung Kemayoran, Jakarta Pusat ke arah Sunter, Jakarta Utara. Tepatnya, jalan tersebut menghubungkan Jalan HBR Motik ke Jalan Benyamin Sueb.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Ery Basworo mengatakan, cekungan yang dirasakan oleh pengendara saat melewati jalan tersebut adalah lepasnya penghubung jalan layang itu. Penghubung itu berfungsi agar laju jalan lebih mulus.



Cekungan itu terbentuk karena ada tiga penghubung di jalan layang tersebut terlepas. Sambungan pertama merenggang 10 cm dan sambungan ketiga sekitar 7,5 cm. Kerusakan paling parah terdapat pada sambungan kedua yang merenggang selebar 15 cm.

Menurut ERy, pembuatan awal jembatan sudah memperhitungkan perengangan dan penyusutan yang akan terjadi akibat hujan lebat maupun cuaca panas. Setiap jembatan atau jalan layang pasti ada ruang untuk sambungan dengan system gelagar. “Bagian itu yang kemudian hilang, entah menyusut atau jatuh, sehingga membuat jembatan tampak menganga,” katanya.

Erry mengatakan pergeseran atau pun kerusakan bisa terjadi di jembatan mana pun. Sebab, struktur dan sarana yang digunakan hampir sama. Seharusnya, lanjut Erry, pergeseran dalam jalur jembatan tersebut tidak akan terjadi jika dilakukan perawatan secara bertahap. Hal ini terjadi karena pihak PPKK (Pusat Pengelolaan Kawasan Kemayoran) tidak melakukan pemeriksaan secara rutin.

Kerusakan itu telah dilaporkan oleh Pusat pengelolaan Kawasan Kemayoran (PPKK) kepada Walikota Jakarta Pusat. Perbaikannya merupakan tanggung jawab Kementerian Pekerjaan umum. Adapun Pemerintah Kota Jakarta Pusat hanya menyampaikan laporan PPKK kepada Dinas Pekerjaan Umum untuk kemudian dilanjutkan kepada Kementrian Pekerjaan umum.

Sementara itu, pejabat Pembuat Komitmen Pembangunan Jalan dan Jembatan Metro 4 Kementerian Pekerjaan Umum, Fadli membenarkan telah terjadi pergeseran di jalan tersebut. Hanya saja, ia tidak bisa memastikan seberapa besar pergeseran yang terjadi. “Harus diteliti lebih lanjut, tapi memang terjadi pergeseran,” katanya saat memberikan keterangan pers pada Selasa, (19/10) di Balaikota, Jakarta.

Fadli mengaku sudah melakukan tindakan observasi di lapangan. “Jalan tersebut bukan jalan nasional, jadi bukan wewenang Pemerintah Pusat melainkan kewenangannya berada pada Sekretariat Negara dan PPKK,” katanya.

Menurutnya, pihak PPKK sudah memiliki dana untuk memperbaiki jalan tersebut. “Kami sudah meminta mereka menyurati Litbang Kemen PU agar bisa dibimbing perbaikannya,” jelasnya.

Fadli mengungkapkan, pekerjaan perbaikan mengganti penghubung di jalan layang tersebut hanya membutuhkan waktu 2 jam. “Saat diperbaiki tidak perlu ditutup jalannya. Karena perbaikannya bisa singkat,” tutur Fadli. Mekanismenya, lanjut dia, adalah batang jalan layang dari masing-masing tiang pancang diangkat kemudian bawahnya disisipkan dengan penghubung (expansion joint) sehingga jalan mulus kembali.

Setiap jalan layang atau jembatan memang ada ruang untuk bergeser memuai dan menyusut seperti rel kereta api. Sehingga jika ada gempa, jalan atau jembatan tidak patah. Ia mengatakan yang hilang di jalan layang Haji Bagindo Rajo (HBR) Motiek hanya penghubungnya saja. “Struktur betonnya masih baik,” katanya.

Artinya, jalan tersebut sebenarnya masih layak dan aman untuk digunakan. “Jalan tersebut masih bisa tetap beroperasi dan tidak memberikan efek yang berakibat fatal bagi pengendara,” katanya. Hanya saja, lanjutnya, P2KK harus tetap memperbaiki penghubung itu. Karena, meski kendaraan masih bisa melintas, jalanan itu terlihat seakan memiliki lubang.

Iklan